“Aduh! Gimana kalau nilai ujianku jeblok?”
“Kayaknya dosen itu menganggapku gak mampu?!”
“Aduh aslinya aku bodoh!”
“Aduh andaikan aku lebih berusaha lagi, pasti dapat hasil lebih bagus!”
Halo “si pintar”! Bagaimana mentalmu? Aman? Pasti kamu familiar dengan kegaduhan-kegaduhan isi pikiran seperti di atas. Kami yakin kalimat-kalimat yang tergambar di atas merupakan sedikit cuplikan dari gelapnya isi pikiran seorang pelajar yang terjebak dalam identitas “si pintar” seperti kamu. Itu hanya sedikit cuplikan loh ya, nyatanya, jebakan identitas si pintar dan academic anxiety (kecemasan akademik) bisa sangat menyeramkan!
Halo, ini Akrim Ilma Mufidah dan Sugiarto Mulyawan, kali ini kita akan berbagi wawasan kita mengenai kecemasan akademik atau istilah populernya academic anxiety. Ini cerita hasil observasi kita terhadap para penyintas kecemasan akademik. Pembahasan ini tidak akan panjang, kami hanya memperkenalkannya saja agar kalian familiar. Pembahasan isu kecemasan akademik bisa sangat panjang, jadi kami hanya memberi ulasan singkat dan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial mengenai isu ini! So, baca sampai selesai ya!

Academic anxiety sudah menjadi masalah yang serius di kalangan para pencari ilmu. Masalah itu sangat penting untuk dipahami karena menjadi faktor penting yang berdampak negatif terhadap berbagai aspek kehidupan pencari ilmu, mulai dari pencapaian akademik hingga kesehatan mental1. Kecemasan memang menjadi hantu menyeramkan yang tidak kasat mata karena ia hidup di dalam mental seseorang. Bagi para pelajar, kecemasan merupakan salah satu prediktor utama kinerja akademik loh!2
Kecemasan akademik sering timbul dalam sistem pendidikan formal. Apakah pencari ilmu yang belajar di sistem pendidikan non formal tidak mengalaminya? Kami yakin mereka relatif tidak mengalaminya, karena dalam pendidikan non formal, proses evaluasi dan sertifikasinya lebih fleksibel daripada dalam pendidikan formal. Misalnya, fleksibel karena tidak ada tekanan nilai atau peringkat, waktu dan tempat belajar yang fleksibel, dan sertifikasinya biasanya berdasarkan portofolio/projek, bukan ujian sertifikasi yang ketat seperti dalam sistem pendidikan formal. Sedangkan dalam sistem pendidikan formal terdapat proses evaluasi dan sertifikasi yang ketat sehingga rentan menimbulkan kecemasan akademik dalam mental para pencari ilmu.
Proses evaluasi dan sertifikasi hanyalah salah satu dari berbagai penyebab kecemasan akademik. Kenyataannya, academic anxiety ini multidimensional. Academic anxiety bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti beban akademik yang tinggi, tuntutan tugas yang ketat, masalah kesehatan fisik dan mental, persaingan akademik yang tidak sehat, keinginan untuk berprestasi, gangguan tidur, hingga masalah keuangan3,4. Kondisi-kondisi tersebut bisa menyebabkan pencari ilmu mengalami kekhawatiran dan ketegangan ketika akan menghadapi ujian, evaluasi dan sertifikasi (terutama dalam sistem pendidikan formal). Sebenarnya kekhawatiran mengenai kinerja akademik bisa berpengaruh positif terhadap motivasi pelajar jika masih dalam taraf “sehat”, namun bisa menyebabkan kondisi negatif terhadap kemampuan pencari ilmu untuk fokus, mengingat informasi dengan cepat, memecahkan masalah, dan terlibat dalam proses kognitif lainnya yang membutuhkan tes evaluatif.
Academic Anxiety Sering Mengintai, Sudahkah Kamu Sadar?
Kesadaran (awareness) mengenai ancaman kecemasan akademik ini meningkat di kalangan para pencari ilmu seiring dengan meningkatnya kesadaran mereka mengenai kesehatan mental. Pada satu titik dalam proses menempuh pendidikan formal, kita akan menyadari bahwa terdapat pola yang tidak sehat berkenaan dengan “mencari ilmu” itu sendiri. Seharusnya, mencari ilmu adalah sebuah kebebasan yang menyenangkan, kan? tapi bisa berubah menjadi “jurang kecemasan” ketika proses mencari ilmu itu dijadikan sebagai cara atau motif untuk mendapatkan sesuatu yang tidak seharusnya. Misalnya untuk mendapatkan legitimasi sosial dari orang lain, memenuhi ekspektasi keluarga, atau mengejar gelar.
Kami beri contoh soal legitimasi sosial. Gampangnya, legitimasi sosial itu sebuah pencapaian diakuinya sesuatu oleh seseorang/masyarakat sebagai sesuatu yang berharga. Ketika belajar dijadikan proses mencari legitimasi sosial, maka mereka belajar hanya untuk mendapatkan validasi akademik dari seseorang atau kelompok. Itu salah satu penyebab timbulnya kecemasan akademik. Berbahaya. Sebenarnya, legitimasi sosial bisa bersifat positif dan negatif. Ia bisa bersifat positif apabila bisa mendorong seseorang untuk maju dan berkembang. Namun, ia akan jadi negatif apabila digunakan sebagai alat untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Kami yakin, mereka yang belajar demi legitimasi sosial, suatu saat akan sadar bahwa validasi semu dari orang lain/kelompok itu tidak akan memberikan dampak apa-apa kepada kemajuan intelektual mereka, yang ada, itu akan menekan mereka untuk terus menerus mencari validasi dari orang lain hingga ia menjadi seseorang yang sangat perfeksionis dan serakah validasi.
Jebakan Identitas “Si Pintar” dan Academic Anxiety
Bagaimana hubungan jebakan status “si pintar” bisa berkaitan dengan academic anxiety? Berdasarkan observasi kami, seseorang yang dari kecil selalu disanjung-sanjung karena pencapaian akademiknya, kemungkinan besar akan menjadi individu yang berciri perfeksionis, tidak mau disalahkan, mudah stress, tidak mau mengerjakan hal-hal teknis, sulit berkembang, dan haus akan validasi eksternal (namun kami masih mencari artikel ilmiah yang memberikan bukti empiris mengenai hal ini ya, we’ll update this later). Ia akan terjebak dalam identitas “si pintar”. Si “pintar” ini relatif memiliki standar yang tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang berujung pada hasil yang tidak sesuai ekspektasi dirinya. Nah kondisi tersebut juga menjadi salah satu penyebab kecemasan akademik.
Jika kamu pernah terjebak dalam kondisi di mana kamu terlalu sering disanjung, kamu akan berusaha untuk berkinerja baik, kan? Usaha untuk selalu berkinerja baik itu bisa berdampak pada meningkatnya level kecemasanmu. Ini bisa menjadi sebuah kurungan persepsi, persepsi kamu tentang dirimu bisa bias dan tidak sesuai kenyataan. Misalnya, kamu akan selalu memandang dirimu bisa, padahal sebenarnya tidak bisa. Ketika kamu menganggap kamu bisa kemudian kamu dihadapkan pada proses penilaian atau evaluasi yang ketat namun ternyata hasilnya buruk, kamu relatif akan menyalahkan dirimu sendiri dan stress gara-gara gagal membuktikan pada dirimu sendiri dan orang-orang. Itulah salah satu kondisi bagaimana identitas “si pintar” bisa berujung pada kecemasan akademik.
Jadi, Apa Sebenarnya Academic anxiety Itu?
Seiring dengan meningkatnya kesadaran kita terkait penyakit mental, kesadaran kita tentang keberadaan kecemasan akademik dalam diri kita mulai meningkat. Belum banyak yang memahami istilah academic anxiety ini, terutama definisinya. Kecemasan akademik tidak hanya cemas soal nilai, tapi bisa lebih luas daripada itu dan beragam jenisnya. Selain perlu memahami definisinya, kita perlu memahami scope, indikasi, pencegahan, dan pengobatannya.
Kecemasan akademik adalah jenis kecemasan khusus di mana pelajar mengalami respons kognitif, fisiologis, dan perilaku terhadap sesuatu hal dalam konteks pendidikan5. Kemasan akademik bersifat multidimensional, apa maksudnya? Maksudnya adalah penyintasnya bisa mengalami gabungan beberapa respons antara respon kognitif, fisiologis, dan perilaku. Respon kognitif merujuk pada pikiran atau proses mental yang muncul akibat kecemasan terhadap situasi akademik (misalnya overthinking dan sulit berkonsentrasi). Respon fisiologis merujuk pada reaksi tubuh yang muncul secara otomatis terhadap suatu stimulus kecemasan akademik (misalnya berkeringat, sakit perut, mual). Sedangkan perilaku merujuk pada reaksi/tindakan yang dilakukan penyintas sebagai akibat dari suatu stimulus kecemasan akademik (misalnya menunda-nunda pengerjaan tugas dan sering mengeluh). Dengan kata lain, ini berkaitan pada bagaimana penyintas bertindak atau merespons kecemasan yang muncul dalam situasi akademik.
Kenapa Kamu Harus Waspada Terhadap Academic Anxiety?
Ingat, sebenarnya kecemasan tidak selalu buruk karena kecemasan adalah respon alamiah kita terhadap lingkungan sekitar. Kecemasan dapat dinilai sebagai emosi normal yang bermanfaat ketika dialami pada tingkat ringan hingga sedang karena memberikan dorongan motivasi untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, namun pengalaman kecemasan seseorang dapat memicu terbentuknya emosi yang buruk atau tidak diinginkan1. Kecemasan akademik bisa menjadi buruk ketika dialami pada tingkat yang berlebihan. Individu dengan kecemasan akademik yang tinggi dapat mengalami kemunduran dalam tingkat pembelajaran dan kegagalan akademik, serta penurunan kemampuan belajar, performa akademik, dan tingkat penyesuaian terhadap lingkungan6.
Kamu harus waspada karena itu pernah terjadi ke kamu, teman-temanmu, dan semuanya! Dengan menjadi waspada mengenai kecemasan akademik, kita bisa segera mengatasinya jika menemukan gejala itu terjadi pada kita. Kita juga bisa mengatasi masalah itu jika suatu saat anak kita punya gejala-gejala kecemasan akademik juga. Kecemasan akademik adalah masalah yang sangat umum, namun tidak mudah terlihat. Sayangnya, kami belum menemukan hasil survey mengenai kecemasan akademik di konteks Indonesia yang populasinya nasional sehingga kami belum mengetahui sejauh apa kecemasan akademik dialami oleh pelajar-pelajar di Indonesia terutama pada mahasiswa.
Bagaimana Cara Menghadapi Kecemasan Akademik Akibat Jebakan Identitas “Si Pintar”?
Pahami Bahwa “You’re Not That Special”

Sanjungan-sanjungan yang berlebihan kepadamu sejak kecil bisa menyebabkan kamu terjebak kepada gunung sanjungan sehingga kamu merasa sangat spesial dan sangat kompeten. Padahal, semua sanjungan itu belum tentu sesuai dengan kompetensimu yang sebenarnya. Bisa jadi, kamu hanya “pintar di kandang sendiri”, saat keluar dari zona nyamanmu kamu akan sadar betapa biasanya dirimu.
Kepercayaan bahwa kamu sespesial itu bisa menyebabkan kamu menganggap bahwa kamu harus mencapai sesuatu yang lebih besar dari orang lain, lebih tinggi dari pencapaian orang lain, paling jago, paling kompeten dan paling paling yang lain. Pada kadar yang sehat, itu sangat bagus karena kamu bisa memiliki nilai kompetitif yang bagus. Namun, bisa sangat merugikan jika kenyataannya kamu benar-benar tidak se-spesial itu.
Jadi, lebih baik memahami bahwa kamu tidak begitu spesial seperti yang mereka sanjung-sanjungkan selama ini, tapi fokuslah pada meningkatkan kompeten dan kapabilitas dirimu yang objektif. Konsekuensi dari kesadaran diri seperti ini bisa mengalihkan fokus kita dari pencarian validasi ke pencarian kompetensi diri. Dengan begitu, proses belajarmu bisa lebih santai tanpa ada tekanan yang diakibatkan kecemasan akademik.
Nilai Akademik Tidak Selalu Penting

Nilai akademik penting pada konteks tertentu tapi tidak selalu penting. Kami ambil konteks mahasiswa jurusan akuntansi, kenyataannya, jika kamu mahasiswa S1 yang karir impiannya ingin menjadi akademisi maka nilai akademik sangat-sangat penting buat kamu karena pada setiap tahapan seleksi (seleksi beasiswa, seleksi admisi S2 dan S3, seleksi jadi dosen, dan seleksi-seleksi lainnya) nilai akademik merupakan salah faktor penentu yang penting.
Namun, jika tujuanmu bukan untuk menjadi akademisi, tapi menjadi praktisi, nilai akademik relatif tidak menjadi faktor penentu kesuksesanmu dalam mencapai karir impian karena pemberi kerja lebih mempertimbangkan faktor sertifikasi, pengalaman kerja, pengalaman magang, soft skill dan hard skill. Tapi, tidak selalu begitu ya. Kuncinya adalah menggapai harmoni antara pencapaian nilai akademik yang bagus dan dibarengi dengan kompetensi dan keahlian yang objektif.
Tingkatkan Coping Mechanism

Coping mechanism merupakan cara kamu menghadapi stress, tekanan atau situasi sulit dalam hidupmu yang mempengaruhi kondisi mentalmu. Saat kamu menghadapi tekanan akademik yang tinggi, maka coping mechanism kamu harus lebih kuat daripada masalah yang kamu hadapi. Dengan demikian, apapun masalahnya, kamu bisa segera healing dengan caramu sendiri.
Kenali Metode Stress Release-mu

Banyak cara untuk merilis stress ketika kuliah. Setiap orang punya caranya masing-masing. Ada berbagai metode stress release, di antaranya metode fisik buat kamu yang suka olahraga, metode mental buat kamu yang suka meditasi, menulis jurnal atau curhat, metode kreatif buat kamu yang, misalnya, suka melukis atau bermain musik; metode relaksasi di alam buat kamu yang suka rekreasi ke alam; atau metode sosial dan spiritual buat kamu yang suka berkumpul, beribadah, dan volunteering. Ada banyak cara, temukan cara unikmu sendiri ya!
Hindari Perfeksionisme

Sifat kepribadian negatif seperti perfeksionisme bisa memicu kecemasan akademik1. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perfeksionisme yang negatif berkontribusi secara signifikan terhadap kecemasan akademik7. Zhao et al. (2022) menjelaskan bahwa orang dengan tingkat perfeksionisme negatif yang tinggi akan menetapkan standar yang tinggi tetapi memberikan sedikit toleransi terhadap kesalahan dalam ujian; akibatnya, mereka tidak pernah merasa bahwa kinerja mereka dalam ujian telah dilakukan dengan cukup lengkap atau cukup baik.
Adakah Diagnosis Gangguan Kecemasan Akademik?
Diagnosis medis gangguan kecemasan sangatlah familiar, tapi apakah ada diagnosis medis “gangguan kecemasan akademik”? Kenyataannya, di Indonesia belum ada diagnosis seperti itu padahal penyintasnya kami yakin sangat banyak, namun tidak semua menganggap kecemasan akademik ini sebagai masalah yang serius sehingga mereka tidak benar-benar menindaklanjuti jenis gangguan kecemasan ini. Umumnya, pelajar di Indonesia sangat jarang mengkonsultasikan kecemasan akademiknya ke profesional seperti psikolog, apalagi hingga mendapatkan rujukan ke psikiater. Kesadaran untuk berkonsultasi ke psikolog mengenai kecemasan akademik sangatlah rendah, hal itu juga diperparah oleh minimnya fasilitas psikolog di kampus-kampus di Indonesia.
Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), jumlah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2024 adalah 4.395 perguruan tinggi yang meliputi berbagai macam perguruan tinggi, seperti universitas, akademi, institut, dan sekolah tinggi. Apakah semua perguruan tinggi tersebut memeliki layanan konseling? Tidak! Hanya beberapa kampus saya yang memiliki layanan psikologi profesional. Banyak juga perguruan tinggi yang mengklaim bahwa mereka punya layanan psikologi tapi nyatanya layanan tersebut tidak benar-benar dijalankan dengan efektif? Terkadang, demi mencapai beragam akreditasi yang bagus, sejumlah perguruan tinggi mengklaim punya layanan psikologi tapi nyatanya tidak jalan.
Banyak penyintas kecemasan akademik yang memilih berjuang dengan dukungan sebaya daripada datang ke layanan psikologi yang ada di kampusnya. Bayangkan jika penyintas tersebut mengalami anxiety attack yang hebat dan dia belum tau bagaimana menanganinya? Mau ke layanan psikologi di kampusnya tidak ada, mau ke fasilitas kesehatan di daerahnya juga belum tau? Ke mana dia harus mengadu dan meminta pertolongan?
Misteri Kecemasan Akademik
Meskipun secara umum kita sudah mengenal kecemasan akademik, masih banyak teka-teki mengenai kecemasan akademik. Banyak pertanyaan yang membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai kecemasan akademik. Di antaranya yaitu:
- Apakah tingkat kecemasan akademik lebih tinggi pada pelajar penerima beasiswa dengan non penerima beasiswa?
- Apakah tingkat kecemasan akademik lebih tinggi pada pelajar dengan tingkat ekonomi tinggi dibandingkan tingkat ekonomi rendah?
- Apakah demografi pelajar juga mempengaruhi tingkat kecemasan akademik? Seperti apakah mereka yang tinggal di daerah perkotaan lebih rentan menyintas kecemasan akademik daripada mereka yang tinggal di daerah pedesaan?
- Apakah jenis kepribadian bisa mempengaruhi kecemasan akademik?
- Seberapa banyak penyintas kecemasan akademik di Indonesia? Apakah mereka mendapatkan diagnosa medis dan mendapatkan pertolongan medis?
Masih banyak lagi teka-teki mengenai kecemasan akademik, jika kamu punya wawasan mengenai hal ini-apapun itu baik pertanyaan, pengalaman dan teori, tulis di kolom komentar ya!
Referensi
- Bülbül, K., & Odacı, H. (2023). Analysis of studies about academic anxiety: A thematic review. Psikiyatride Güncel Yaklaşımlar, 15(2), 370–384. https://doi.org/10.18863/pgy.1124868
- Vitasari, P., Wahab, M. N. A., Othman, A., Herawan, T., & Sinnadurai, S. K. (2010). The relationship between study anxiety and academic performance among engineering students. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 8, 490–497. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2010.12.067
- Haidar, S. A., de Vries, N. K., Karavetian, M., & El-Rassi, R. (2018). Stress, anxiety, and weight gain among university and college students: A systematic review. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, 118(2), 261–274. https://doi.org/10.1016/j.jand.2017.10.015
- January, J., Madhombiro, M., Chipamaunga, S., Ray, S., Chingono, A., & Abas, M. (2018). Prevalence of depression and anxiety among undergraduate university students in low- and middle-income countries: A systematic review protocol. Systematic Reviews, 7, 57. https://doi.org/10.1186/s13643-018-0723-8
- Cassady, J. C. (Ed.). (2010). Anxiety in school: The causes, consequences, and solutions for academic anxieties. Peter Lang Publishing Inc.
- Clark, B. R. (1989). The academic life: Small worlds, different worlds. Educational Researcher, 18(5), 4–8. https://doi.org/10.3102/0013189X018005004
- Zhao, M., Li, J., Lin, Y., Zhang, B., & Shi, Y. (2022). The effect of perfectionism on test anxiety and the mediating role of sense of coherence in adolescent students. Journal of Affective Disorders, 310, 142–149. https://doi.org/10.1016/j.jad.2022.05.009
Penulis
Akrim Ilma Mufidah