Sugiarto Mulyawan Halo wikiters! Aku Sugi, seorang pegiat seni dan akuntansi. Saat ini kesibukannya lagi belajar di Magister Sains Akuntansi, Universitas Gadjah Mada.

Bahayanya Overcommitment Dalam Pekerjaan

2 min read

Bahayanya Overcommitment Dalam Pekerjaan

Adanya tekanan untuk menjadi selalu unggul dalam hal apapun membuat seseorang bisa terjerumus ke dalam perilaku komitmen yang tidak sehat atau sering disebut “overcommitment” atau “komitmen yang berlebihan”. Bukan hanya karena ingin unggul, perilaku overcommitment dapat terjadi pada seseorang karena berbagai faktor seperti sifat perfeksionis, takut ketinggalan (fear of missing out atau FOMO), budaya, kebiasaan, dan kurangnya kontrol terhadap diri sendiri.

Perilaku tidak sehat tersebut bisa terjadi pada berbagai konteks, seperti dalam pekerjaan, rumah tangga, hubungan asmara, hubungan pertemanan dan konteks lainnya. Namun, fokus pembahasan artikel kali ini adalah pada konteks pekerjaan. Overcommitment dalam pekerjaan.

Di lingkungan pekerjaan, perilaku overcommitment bisa sangat merugikan, baik bagi kamu sendiri sebagai karyawan maupun bagi organisasi tempat kamu bekerja. Kerugian yang diakibatkan perilaku tersebut tidak hanya kerugian material, namun bisa juga kerugian non material seperti terganggunya kesehatan fisik, terganggunya kesehatan mental (misalnya stress, burnout, kecemasan berlebih) dan terganggunya hubungan sosial.

So, sebelum perilaku tersebut merugikanmu, yuk kenali bagaimana sih ciri-ciri dan cara mencegahnya!

Apa itu perilaku overcommitment?

Secara harfiah, “overcommitment” dapat diartikan “melampaui komitmen” atau “melebihi kewajiban”. Istilah ini merujuk pada situasi di mana seseorang berkomitmen atau berjanji untuk melakukan terlalu banyak hal atau mengambil terlalu banyak tanggung jawab melebihi yang seharusnya, sehingga sulit untuk menjalankan semuanya dengan baik.

Berdasarkan KBBI, komitmen memiliki arti:

  1. perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak:perkumpulan mahasiswa seharusnya mempunyai — terhadap perjuangan reformasi
  2. tanggung jawab

Sedangkan menurut kamus Meriab-Webster, over​com​mit berarti

  1. v. untuk mewajibkan (seseorang, seperti diri sendiri) di luar kemampuan pemenuhan
  2. v. untuk mengalokasikan (sumber daya) yang melebihi kapasitas untuk pengisian ulang
Sumber: canva.com

Overcommitment mencerminkan “pola kognitif-motivasi” dalam mengatasi tuntutan yang ditandai oleh kebutuhan tinggi akan kontrol, kebutuhan tinggi akan persetujuan, usaha berlebih di tempat kerja, dan ketidakmampuan untuk mundur dari pekerjaan; orang dengan OC tinggi cenderung mempertahankan usaha yang berlebihan di bawah penghargaan yang tidak memadai (Chen et al., 2022).

Kita sering kali melakukan overcommitment secara tidak sadar. Perlu bagi kita untuk mengenali ciri-ciri overcommitment sejak dini agar kita bisa mengidentifikasinya sesegera mungkin ketika kita dihadapkan pada situasi yang mengandung potensi overcommitment.

Karakteristik Over Commitment dan Under Commitment

Tabel berikut ini menyajikan ciri-ciri overcommitment dalam konteks lingkungan pekerjaan. Yuk kenali ciri-ciri overcommitment dan kebalikannya “undercommitment” agar kita bisa lebih paham terhadap fenomena ini.

Over CommitmentUnder Commitment
Sifat yang terlalu setia.Mengalami ketidakinginan untuk terlalu berprestasi di tempat kerja.
Mengalami burnout pekerjaanTakut akan kegagalan
Mengalami perilaku obsesif-kompulsif dalam bekerja.Mengalami penundaan dalam bekerja.
Mengalami dorongan untuk lebih menonjol dibandingkan karyawan lain.Tidak terlalu ingin menonjol
Tingkat energi yang terlalu tinggi.Pencapaian yang kronis dan persisten
di bawah standar yang diharapkan.
Sumber: Supriyanto, A. (2016)

Misalnya kamu adalah seorang karyawan yang bekerja pada PT. A. Kamu seorang yang selalu setia pada perusahaan dan atasan kamu sehingga kamu sering menerima pekerjaan yang sebenarnya di luar tanggungjawab kamu. Pada mulanya kamu akan merasa semangat untuk mengerjakannya walau pun pekerjaan itu di luar tanggungjawabmu. Namun, pada satu titik tertentu kamu akan mengalami kendala seperti stres. Itu artinya kamu telah mengalami overcommitment.

Ayo, kita hindari perilaku overcommitment agar hidup kita lebih enjoy dan santuy!

Referensi:

Sung-Wei Chen, Hynek Pikhart, Anne Peasey, Andrzej Pajak, Ruzena Kubinova, Sofia Malyutina, Martin Bobak. 2022. Work stress, overcommitment personality and alcohol consumption based on the Effort–Reward Imbalance model: A population–based cohort study. SSM-Population Health, Volume 21, March 2023, 101320

Supriyanto, Achmad. 2016. Leader’s Strategy in Building Organizational Commitment. Advances in Economics, Business and Management Research, volume 14. 6th International Conference on Educational, Management, Administration and Leadership (ICEMAL2016)

Sugiarto Mulyawan Halo wikiters! Aku Sugi, seorang pegiat seni dan akuntansi. Saat ini kesibukannya lagi belajar di Magister Sains Akuntansi, Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *